MAKNA "HA NA CA RA KA" (aksara jawa)

by Iwanwahyu on 11:56 PM, 05-Nov-11

Category: Info unik caberawit





Aksara Jawa ha-na-ca-ra- ka
mewakili spiritualitas orang Jawa
yang terdalam: yaitu kerinduannya
akan harmoni dan ketakutannya
akan segala sesuatu yang dapat
memecah-belah harmoni. Konon
aksara Jawa ini diciptakan oleh
Ajisaka untuk mengenang kedua
abdinya yang setia.

Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada "utusan" yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban
menyatukan jiwa dengan jasat
manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang
dipercaya dan ada yang dipercaya
untuk bekerja. Ketiga unsur itu
adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan).

Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia
setelah diciptakan sampai dengan
data "saatnya (dipanggil)" tidak
boleh sawala "mengelak" manusia
(dengan segala atributnya) harus
bersedia melaksanakan, menerima
dan menjalankan kehendak Tuhan.

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti
menyatunya zat pemberi hidup
(Ilahi) dengan yang diberi hidup
(makhluk). Maksdunya padha "sama"
atau sesuai, jumbuh, cocok
"tunggal batin yang tercermin dalam
perbuatan berdasarkan keluhuran
dan keutamaan. Jaya itu "menang,
unggul" sungguh-sungguh dan bukan
menang-menangan "sekedar
menang" atau menang tidak sportif.

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti
menerima segala yang
diperintahkan dan yang dilarang
oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Maksudnya manusia harus pasrah,
sumarah pada garis kodrat,
meskipun manusia diberi hak untuk
mewiradat, berusaha untuk
menanggulanginya.

Makna Huruf HANACARAKA

  1. Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
  2. Na Nur candra, gaib candra,warsitaning candara – pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
  3. Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
  4. Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
  5. Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam
  6. Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya
  7. Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
  8. 0Sa Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
  9. Wa Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
  10. La Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
  11. Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
  12. Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
  13. Ja Jumbuhing kawula lan Gusti – Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
  14. Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah/kodrat Illahi
  15. Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan
  16. Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
  17. Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani
  18. Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
  19. Tha Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
  20. Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi manusia


Dalam kisah AJISAKA
ha na ca ra ka Dikisahkanlah
tentang dua orang abdi yang setia
da ta sa wa la Keduanya terlibat
perselisihan dan akhirnya berkelahi
pa da ja ya nya Mereka sama- sama
kuat dan tangguh ma ga ba tha nga
Akhirnya kedua abdi itu pun tewas
bersama Aksara Jawa.
ha-na-ca-ra-
ka mewakili spiritualitas orang Jawa
yang terdalam:
yaitu kerinduannya
akan harmoni dan ketakutannya
akan segala sesuatu yang dapat
memecah-belah harmoni. Konon
aksara Jawa ini diciptakan oleh Ajisaka untuk mengenang kedua
abdinya yang setia. Dikisahkan
Ajisaka hendak pergi mengembara,
dan ia berpesan pada seorang
abdinya yang setia agar menjaga
keris pusakanya dan mewanti-wanti:
janganlah memberikan keris itu
pada orang lain, kecuali dirinya
sendiri: Ajisaka. Setelah sekian
lama mengembara, di negeri
perantauan, Ajisaka teringat akan
pusaka yang ia tinggalkan di tanah
kelahirannya. Maka ia pun mengutus
seorang abdinya yang lain, yang
juga setia, agar dia pulang dan
mengambil keris pusaka itu di tanah
leluhur. Kepada abdi yang setia ini
dia mewanti-wanti: jangan sekali-
kali kembali ke hadapannya kecuali
membawa keris pusakanya.
Ironisnya, kedua abdi yang sama-
sama setia dan militan itu, akhirnya
harus berkelahi dan tewas bersama:
hanya karena tidak ada dialog di
antara mereka. Bukankah
sebenarnya keduanya mengemban
misi yang sama: yaitu memegang
teguh amanat junjungannya? Dan
lebih ironis lagi, kisah tragis
tentang dua abdi yang setia ini
selalu berulang dari jaman ke
jaman, bahkan dari generasi ke
generasi.

UNEN UNEN JAWA
*pamulange sangsarane sesami = pelajarannya sengsaranya sesama
*sakti tanpa aji = berhasil tanpa sarana
*sugih tanpa banda = bisa
menginginkan apa saja tanpa
persiapan
*ngluruk tanpa bala = menyusup
tanpa teman, tetapi selalu
mendapatkan hasil
*ngasorake tanpa peperangan =
menang tanpa menggunakan
kekerasan/perang (objek)apa kang
sinedya teka,apa kang kacipta dadi
= apa yang diinginkan/diamaui akan
terjadi/ tercipta.
*Digdaya tanpa aji = sakti tanpa
ajian
*Trimah mawi pasrah = menerima
dengan menyerah
*Suwung pamrih tebih adjrih = sepi
hasrat jauh dari takut
*Langgeng tan ana susah tana ana
bungah = tenang tetap hidup nama
*murid gurune pribadi = murid
gurunya pribadi.

suka

Full Site

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Email:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images